Kamis, 20 Desember 2012

Cerita Merangin - Jambi


SEJARAH SUNGAI MERANGIN DAN SUNGAI MASUMAI,
JUGA BUAYA PUTIH NYA
Karangan : Shakti AM.E
Jakarta, 13 Desember 2012

Kota bangko,adalah kota yang terletak di tengah kabupaten merangin.sebuah kabupaten di propinsi jambi.kota bangko memiliki dua sungai besar,yaitu sungai merangin dan sungai mesumai yang kedua sungai ini bertemu pada suatu muara ,yang di namakan ujung tanjung muara mesumai.ujung tanjung muara mesumai sendiri juga berfungsi sebagai taman kota,dimana taman ini banyak di kunjungi masyarakat merangin,khusus nya oleh para remaja pada sore maupun malam hari.
Berbicara tentang sungai,kedua sungai ini mempunyai sejarah yang sangat menarik,dimana pada jaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan merangin.raja merangin memiliki seorang putra tunggal yang bernama alam jaya.alam jaya sendiri terkenal sangat sombong,angkuh,dan terkadang bertindak semaunya terhadap rakyat-rakyat kecil.
Pada suatu hari,alam jaya sedang pergi berburu ke sebuah hutan yang tak jauh dari kerajaan,daerah itu kini kita kenal dengan nama bukit aur.disana,tanpa disengaja alam jaya bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik.gadis itu bernama Selasih.alam  jaya ingin sekali memiliki selasi,bahkan ingin mmperistrinya.namun sayang sekali,selasih sendiri menolak karna tidak lama lagi dia akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pemuda biasa,yang bernama mesumai.tentu saja alam jaya merasa terhina akan penolakan itu.
Malam itu,alam jaya pergi menemui kedua orang tua selasi,alam jaya membujuk agar pernikahan selasih di batalkan.alam jaya juga menjanjikan ,jika dia bisa menikahi selasih,maka kebutuhan hidup seluruh keluarga selasih akan ditanggung oleh nya,bahkan akan tinggal di istana bersamanya.mendengar tawaran itu,kedua orang tua selasih kahirnya menyetujui permintaan alam jaya.namun ternyata tanpa disengaja selasih mndengar pembicaraan itu.
Malam itu,selasih langsung secepatnya menemui mesumai,dan menceritakan semua yang dia dengar tadi.mesumai yang merasa tak akan mampu untuk bersaing denga seorang putra raja,langsung mengambil keputusan untuk membawa selasih pergi dari wilayah merangin.namun sayang,di tengah pelarian,alam jaya dan pasukan nya berhasil menangkap mesumai dan selasih.maka mereka berdua di bawa ke istana untuk diadili,dengan tuduhan perzinahan.tuduhan itu sendiri merupakan rekayasa dari alam jaya sendiri.
Namun,ternyata fitnah itu tidak dipercayai oleh petinggi-petinggi kerajaan,karena mereka tau watak seorang alam jaya.dan disana,mesumai memberanikan diri untuk berontak,dan menceritakan apa yang sebenrnya.maka raja memutuskan,untuk mengadakan tanding pacuan kuda.siapa yang terlebih dahulu berhasil mencapai garis finish,maka dialah yang akan menikahi selasih.mesumai menerima tantangan itu,dengan perjanjian,tidak ada kecurangan dalam pertandingan ini.dan mesumai besumpah,jika ada kecurangan,maka wilayah merangin akan mendapat suatu bahaya.dan raja pun menyetujui sumpah itu.
Keesokan hari nya,pentandingan pun dimulai.petandingan ini memiliki garis star dan jalur yang berbeda,namun memiliki garis finish yang sama.pertandingan ini di mulai pada saat ayam mulai bekokok.pertandingan pun dimulai dengan lintasan yang cukup jauh,kira-kira 40km.dan akhirnya,tanpa diduga,ternyata mesumai lah yang berhasil mencapai garis finish terlebih dahulu.teriakan gembira serta tepuk tangan dari penonton pun ternyata membuat alam jaya menjadi malu,bahwa seorang putra tunggal raja ternyata dapat dikalahkan oleh pemuda biasa.dari atas kuda nya,alam jaya yang begitu di penuhi rasa amarah dan rasa malu,langsung saja menebas leher mesumai dengan pedang.dan tewas lah mesumai.
Rakyat dan petinggi kerajaan hanya bias terdiam dan terpana melihat kejadian itu.namun raja pun memerintahkan pasukan untuk memenjarakan putra tunggal nya sendiri.namun tak lama kemudian sebuah gempa besar terjadi,ternyata perjanjian yang dilanggar oleh alam jaya menjadi sebuah bencana besar untuk wilayah merangin.kedua jalur yang di lalui oleh kedua pemuda tadi menjadi longsor,dan menjadi sungai yang mengaliri air yang begitu panas dan kedua sungai itu bertemu dan membentuk sebuah muara.sungai tersebut membuat masyarakat resah karna untuk kembali kerumah mereka masing-masing sangat tidak mungkin mampu mnyebrangi sungai yang begitu panas.
Malam pun tiba,malam itu seorang penasehat raja yang juga seorang ulama bermimpi,bahwa bencana ini akan berakhir jika ada seorang yang mau mengorbankan diri nya untuk masuk kedalam sungai sungai panas itu.pagi pun tiba,pagi di tengah kerumanan marsayarakat dan petinggi-petinggi kerajaan,penasehat raja mengumumkan tentang mimpi yang didpat nya semalam.namu tak ada seorang pun yang mau untuk menjadi tumbal.dan tampa disengaja,selasih yang merasa hidupnya kini tiada arti lagi,juga mengingat keputusan kedua orang tua nya yang lebih mementingkan harta dibanding kebahagiaan anak nya sendiri,selasih memutuskan untuk rela menjadi tumbal.walau tanpa persetujuan kedua orang tua nya selasih tetap saja kuat kepada keputusannya.akhirnya dengan di saksikan rakyat dan petinggi-ptinggi kerajaan merangin juga triakan larangan juga tangis kedua orang tua nya yang tak dihiraukan nya lagi,selasih mulai berjalan dan turun,lalu masuk kedalam sungai panas tersebut.
Dan benar,dan tak lama kemudian air sungai yang tadinya mengaliri air yang begitu panas,kini berubah seketika menjadi sungai biasa.dua sungai besar yang bertemu di sebuah muara,dan membentu huruf Y.kedua sungai itu di berinama sungai mesumai dan sungai merangin.
Namun sejarah ternya tidak berhenti sampai disini.ternya,di muara tersebut rakyat sangat sering sekali melihat sosok seekor buaya putih.buaya putih tersebut sangat sering menampakan wujudnya pada saat malam di bulan purnama.buaya putih tersebut di percaya sebagai jelmaan selasih yang tlah mengorbankan dirinya demi keselamatan wilayah merangin.hingga jaman sekarang pun,buaya putih tersebut masih sangat sering menampakan wujud nya.

Cerita ini hanyalah sebuah karangan,yang terlintas dipikiran,dan dirangkai menjadi sebuah cerita,
Yang mungkin bisa kita ambil sisi baik,dan sisi buruk dari cerita ini.
-Shakti amri, jakarta ,13 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar